Minggu, 24 Juli 2011

Pengukuhan IKBL 4L Bengkulu

Acara Pengukuhan Ikatan Keluarga Besar Empat Lawang (IKBL 4L) di bengkulu pada tanggal 12 Oktober 2010 di Bengkulu berlangsung meriah. di hadiri oleh seluruh anggota Ikatan Keluarga Besar Empat Lawang di Bengkulu dan turut hadir juga Bupati Empat Lawang, Walikota Bengkulu, Ketua Umum IKBL Pusat serta undangan para Sesepuh Empat Lawang.

Sanggar Seghumpun Kawo Emass Kab. Empat Lawang juga di minta untuk mengisi acara, dalam kesempatan ini tim Sanggar Seghumpun Kawo Emass menampilkan Tari Sambut Empat Lawang, Lagu daerah empat Lawang, Tari Kreasi baru Tari Nugal, Rejung Empat Lawang dan persembahan Musik etnik Empat Lawang. kegiatan ini juga di meriahkan oleh artis dangdut ibu kota Iis Dahlia.


Post by : Maskur Wahyudi (Mahwa)







Kamis, 21 Juli 2011

FESTIVAL SERELO I TAHUN 2009



FESTIVAL SERELO  I TAHUN 2009

DI KABUPATEN LAHAT

5/16/2009
SANGGAR SEGHUMPUN KAWO EMASS

PAGELARAN TIM KESENIAN KABUPATEN EMPAT LAWANG
PADA FESTIVAL SERELO
TAHUN 2009
TANGGAL 16 S/ D 18 MEI 2009

MATERI PAGELARAN

1. TARI GERIGEK

SINOPSIS  :
                Tari GERIGEK ini menggambarkan kebiasaan masyarakat Empat Lawang Khususnya masyarakat di pedesaan dalam mengambil air dari sungai untuk keperluan Memasak dan Minum sehari-hari. Sebagai alat Tradisi, GERIGEK adalah sejenis bambu yang di potong seruas dan ujung bambu di potong sedikit untuk memasukkan air. Tari ini di bawakan oleh 5 orang penari yang masing-masing membawa Gerigek dan gerakkannya menyesuaikan prilaku mereka ketika hendak mengambil air.

2.         Lagu Puyang Gadis ( Lagu daerah Kab. Empat Lawang) 

SINOPSIS   

          Legenda dari desa Kupang kecamatan Tebing Tinggi, mengisahkan tentang seorang gadis yang sangat cantik pada masa itu. Puyang Gadis atau nama aslinya  Siti Rohina sudah terkenal sampai ke kerajaan palembang. Karena kecantikannya, sunan palembang mengutus para Hulu Balang untuk menjemput Siti Rohina yang kemudian akan di jadikan permaisuri. Ketika Hulu Balang Sunan Palembang hendak datang ke tanah kelahiran Siti Rohina, berita itu sudah dahulu sampai ke keluarga Siti Rohina, namun Siti Rohina tidak menghendaki pinangan tersebut. Akhirnya keluarga Sti Rohina memutuskan akan menyembunyikan dia ke dalam tanah dengan cara dikubur dan “suling” atau bambu sebagai alat pernafasannya, dimaksudkan agar ketika para Hulu Balang tiba, keberadaan Siti Rohina tidak di ketemukan.        Kejadian ini terus berlanjud sampai beberapa kali, pihak keluaraga Siti Rohima harus membuat liang persembunyiannya setiap kali ada kabar para Hulu Balang akan tiba. Namun ketika yang ketiga kalinya para Hulu Balang tiba, keluarga Siti Rohia menyembunyikan kembali kedalam tanah, karena terlalu terburu-buru mereka lupa akan Suling/ Bambu untuk Pernafasan dirinya. Ketika mereka ingat akan kealfaan tersebut, keluarga Siti Rohina segera membongkar liang tersebut, dan   ternyata jasad Siti Rohina hilang dari persembunyiannya yang tersisa hanya bajunya saja. Konon, ada sumpah Siti Rohina yang melegenda, “kelak anak cucung ku atau garis keturunan ku yang kencantikkannya menyerupai ku, maka umurnya tidaklah panjang”, dan mitos ini sangat di percaya di desa kupang, bahkan konon Sumpah Puyang Gadis atau Siti Rohina sudah terbukti dari sejak dulu terjadi pada garis keturunannya yang masih hidup.

3.         Lagu Semirap Petang ( Lagu daerah Kab. Lahat)

4.         Tari Ketubean

 SINOPSIS
    
              Ketubean, berasal dari kata ‘Tuba’ artinya racun, adalah wujud dari kegembiraan masyarakat ketika air belerang mulai mencemari sungai musi di Tebing Tinggi. Hal ini terjadi satu kali dalam setahun, di mana ketika air belerang dari Pegunungan Dempo mulai menguap sapai kesungai musi, ikan- ikan yang berada akan Ketubean atau Keracunan Belerang sehingga dapat mengapung di sungai musi, pada saat itulah masyarakat dengan riang gembira menyambut fenomena yang unik tersebut.  
                                                         

post by :

Maskur Wahyudi (Mahwa)





Rabu, 20 Juli 2011

Legenda Masyarakat Empat Lawang

Pagelaran Tim Sanggar Seghumpun Kawo Emass
Teater Legenda Puyang Gadis
Di Teater Tanah Airku Taman Mini Indonesia Indah Jakarta
tanggal 17 Juli 2010


PUYANG GADIS 
Legenda Masyarakat Desa Kupang 
Tebing Tinggi 
Kab. Empat Lawang 
Sumatera Selatan

            Desa Kupang berada di kota Tebing Tinggi Kabupaten Empat Lawang Sumatera Selatan.  kisah ini berasal dari desa Kupang Lama, yang terletak di pesisir sungai. Karena terjadi suatu peristiwa, warga yang tersisa mencoba membangun kembali perkampungannya di sebelah timur dari perkampungan yang lama. Dengan tujuan mendapatkan ketentraman hidup yang lebih baik.
                             
            Disebut desa Kupang karena dahulu di tempat itu banyak terdapat pohon kupang. Pada zaman dahulu tersebutlah seorang gadis yang cantik jelita dan menjadi pujaan setiap orang ia berasal dari keluarga miskin, kedua orang tuanya telah meninggal dunia. Siti Rohina atau biasa di panggil Siti Lam Jen’ah demikian namanya, ia tinggal bersama kakak sulungnya yang bernama Abdul Amaran alias bujang juaro. Kakaknya terkenal memiliki kesaktian yang tinggi, punya ilmu kebal dan piawai dalam segala hal.  Kebaikan dan ketulusan hati Siti Rohina membuat ia terkenal hingga di luar desanya dan di senangi oleh teman-temannya. Walaupun di beri kesempurnaan fisik oleh Yang Maha Kuasa tetap membuatnya rendah hati.
           
            Suatu hari, Siti Rohina dan teman-temannya sedang membersihkan diri dan mencuci pakaian di sungai dekat desa Kupang. Mereka sangat menikmati air sungai yang begitu jernih dan sejuk, tak terasa mereka menghabiskan waktu hingga sore hari berada di sungai. Ketika hendak pulang, Siti Rohina lupa membawa Takuk Labu atau tempat alat-alat mandinya. Takuk Labu itu kemudian hanyut bersama aliran sungai yang begitu deras.

            Hari demi hari, Takuk Labu tersebut terus hanyut sampai ke wilayah Palembang. Tiba-tiba ada perahu besar atau Jung yang melintas, melihat benda yang mengapung tak jauh dari mereka akhirnya Takuk Labu tersebut diambil oleh salah seorang juru mudi kapal untuk di serahkan kepada pemilik perahu itu. Melihat benda tersebut, pemilik perahu yang ternyata adalah Sunan Palembang sangat penasaran benda apakah itu. Sunan kemudian memerintahkan mencari seorang ahli nujum yang dapat melihat siapakah pemilik benda tersebut. Sang ahli nujum kemudian memberikan isyarat bahwa ini adalah Takuk atau alat untuk meletakkan barang-barang keperluan mandi seorang perempuan. Pemilik takuk labu tersebut orangnya sangat cantik dan terkenal di daerahnya yang bernama Siti Rohina,  bertempat tinggal di hulu sungai Musi sebelah Selatan, akan tetapi ia seorang anak yatim piatu yang sangat miskin.  Jika ingin pergi ke sana harus menaiki Jung atau perahu menyusuri hulu Sungai Musi dan ternyata menurut petunjuk, di desa tersebut banyak tumbuh pohon kupang. Sunan yang kian penasaran dengan pemilik takuk tersebut memutuskan untuk berkunjung ke desa Kupang. 

            Sunan Palembang dan para pengawalnya tiba di desa Kupang, masyarakat sangat terkejut desanya kedatangan tamu yang terhormat menaiki perahu yang megah. Kemudian seorang utusan Sunan turun dan menanyakan keberadaan Siti Rohina, masyarakat yang sedang berada di sungai yang sedang mencari ikan menunjukkan arah rumah Siti Rohina. Setelah sampai mereka bertemu dengan Abdul Amaran kakak Siti Rohina, Sunan kemudian mengungkapkan maksud serta tujuan kedatangannya ke desa Kupang untuk bertemu dengan Siti Rohina dan menyerahkan takuk labu yang hanyut sampai ke negeri Palembang. Abdul Amaran mejelaskan bahwa benar takuk labu itu kepunyaan adiknya, namun Abdul Amaran mengkatakan bahwa pemilik takuk labu ini tidak berada dirumah, karena sedang nyamah (menangkap ikan hanya menggunakan tangan). Abdul Amaran menyampaikan kepada sunan agar kembali ke desa kupang dalam waktu tiga hari lagi supaya bisa ketemu dengan adiknya.

            Setelah kepergian sunan Palembang, Abdul Amaran kemudian menemui adiknya dan menyampaikan maksud ke datangan sultan Palembang, mendengar hal tersebut Siti Rohina memutuskan tidak akan menemui sunan, ia takut akan di jadikan selir karena perbedaan status ia merasa malu karena ia berasal dari keluarga miskin. Siti Rohina menyuruh kakaknya, jika nanti sunan tiba di desa kupang  supaya ia di sembunyikan dengan cara di kubur di dalam tanah agar sunan dan para pengawalnya tidak akan pernah menemukannya.

             Setelah tiga hari dari perjanjian itu, sunan Palembang datang kembali ke desa Kupang. Tetapi sebelum sampai ke desa Kupang, sunan mengganti jung dengan perahu yang lebih kecil supaya masyarakat desa Kupang tidak mengetahui kedatangannya. Salah seorang masyarakat Kupang yang sedang mencari ikan di sungai mengetahui kedatangan sunan. Ia segera memberitahukan kepada kakak  Siti Rohina. Akhirnya masyarakat yang ada kemudian berkumpul untuk membantu Abdul Amaran menyembunyikan  Siti Rohina kedalam lubang tanah yang telah di siapkan guna menghindari pertemuan dengan Sunan.
Karena waktu telah mendesak, tanpa di sadari ketika Siti Rohina disembunyikan dengan cara di kuburkan, Abdul Amaran lupa untuk memberikan suling atau lubang untuk alat pernafasan ( terbuat dari bambu ) bagi adiknya. Setelah bertemu dengan Abdul amaran, Sunan Palembang menagih janjinya kepada Abdul amaran untuk bertemu adiknya Siti Rohina, Abdul Amaran menolak memberitahu keberadaan adiknya. Karena merasa dipermaikan, Sunan marah dan menyuruh para pengawal mencari Siti Rohina. Setelah pancarian selesai dan tidak berhasil menemukan Siti Rohina Sunan memerintahkan menangkap Abdul Amaran. Karena telah mempermainkan seorang Sunan,  kemudian terjadilah perkelahian antara Sunan Palembang dengan Abdul Amaran. Oleh karena kesaktian Abdul Amaran,  Akhirnya Sunan dan para prajurit kerajaan  tidak mampu menangkap Abdul Amaran yang kemudian memutuskan untuk kembali ke Palembang.

 Abdul Amaran kemudian teringat akan kelalaiannya karena tidak meletakkan alat pernafasan bagi adiknya. Secepat kilat dan dengan kesaktiannya Ia pun segera membongkar kembali lubang tanah tempat adiknya disembunyikan. Alangkah terkejutnya Abdul Amaran, teryata adiknya tidak berada di dalam lubang tanah tersebut. Yang ada melainkan sehelai pakaiannya saja. Ia mencari dan terus mencari adiknya bersama warga desa Kupang dan tetap tidak diketemukan. Akhirnya terdengarlah suara gaib dari adiknya :


“ Jika kelak ada anak cucung kerabatku yang kecantikannya melebihi Aku, maka umurnya tidak akan panjang, supaya  tidak akan  terjadi lagi bencana seperti yang aku alami”.

            Kebenaran sumpah dari Puyang Gadis atau Siti Rohina sangat dipercaya oleh masyarakat desa Kupang hingga kini. Sudah terbukti beberapa kali terjadi garis keturunan kerabat Puyang Gadis yang mempunyai anak yang sangat cantik maka ia akan mati muda, atau meninggal sebelum ia menikah. 

                 Kini kuburan / tempat persembunyian Puyang Gadis yang terletak di desa Kupang lama yang berada di samping kuburan Bujang Juare dan kedua orang tuanya sering di ziarahi oleh masyarakat setempat. Fenomena lainnya adalah setiap tahun tanah kuburan Puyang Gadis akan meninggi dalam beberapa centimeter ini diyakini masyarakat untuk selalu mengenang pesan Puyang Gadis tersebut.

"Cerita di ambil dari sumber Tokoh masyarakat desa Kupang Tebing Tinggi Empat Lawang"   

Produser                        : Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Empat Lawang
Sutradara/ koreografi   : Maskur Wahyudi (Mahwa)
Penata Musik                : Hendrianto, S. Pd
Pelaku / Pemeran         : Tim Sanggar Seghumpun Kawo Emass
Artistik Panggung       : Kiki 

Adat Nge'cek

BUDAYA NGE'CEK EMPAT LAWANG


Budaya Ngecek adalah adat pergaulan muda mudi di Empat Lawang dalam mencari pasangan kekasih. Dalam budaya ngecek biasanya sang pemuda yang menyenangi seorang gadis ia akan mengutarakan keinginannya melalui kurir yang disebut Jaruman Seorang jaruman akan menyampaikan pesan tersebut kepada gadis yang dituju.. kemudian gadis tersebut akan diajak dan dipertemukan dengan bujang tesebut di rumah jaruman yang pada saat itu orang tua jaruman sedang tidak di rumah atau sedang berpergian, sampai di sini tugas seorang jaruman sudah selesai kemudian ia meninggalkan kedua pasangan tersebut.

Pada saat jaruman meninggalkan mereka berdua, si bujang mulai mengutarakan maksud hatinya kepada gadis yang biasa disebut ngecek. Apabila dalam acara ngecek ini si gadis menerima ungkapan isi hati sang bujang, maka kedua insan tersebut berpacaran. Dalam beberapa kali pertemuan ini, mereka sepakat untuk memasuki jenjang pernikahan, dan sang bujang akan meminang si gadis untuk berumah tangga. Maka sang gadis akan bicara kepada ibu, bibi atau keluarga terdekatnya, bahwa ada seorang bujang yang akan meminang dirinya. Lalu ibu, bibi atau keluarga terdekatnya tadi akan menyampaikan kabar tersebut kepada orang tua laki-laki (ayahnya) maupun saudara laki-lakinya, apabila orang tua dari sang gadis tersebut setuju dengan peminangan itu, maka orang tua sang gadis akan menyampaikan kepada orang tua pemuda yang akan meminang anak gadisnya bahwa kapan keluarganya akan datang untuk meminang atau berasan.

Sumber, dokumen arsip Syamsu Indra Usman. HS

Post by : Maskur Wahyudi

Pekan Produk Kreatif Indonesia 2011

Sanggar Seghumpun Kawo Emas pada Pekan Produk Kreatif Indonesia 2011 tanggal  06 s.d 10 Juni 2011

            Pekan Produk Kreatif Indonesia 2011 merupakan satu bentuk dari kegiatan industri kreatif yang bertujuan untuk meningkatkan promosi seni dan budaya tradisional Indonesia dengan harapan hasil-hasil kebudayaan mampu memberi kontribusi bagi kesejahteraan masyarakat Indonesia melalui semangat kreatifias dan indentitas bangsa Indonesia. Adapun tema PPKI 2011 ini yaitu “Indonesia Kreatif, Indonesia Mandiri”
            Dalam kesempatan ini Provinsi Sumatera Selatan mempercayakan Kabupaten Empat Lawang untuk berpartisipasi dalam kegiatan tersebut mewakili Provinsi Sumatera Selatan dengan membawa kebudayaan Empat Lawang dalam salah satu pengenalan promosi seni budaya dan daerah dengan Pentas Seni Pertunjukan mengangkat cerita tradisi daerah Empat Lawang.
            Potensi kegiatan PPKI 2011 dalam mengungkapkan kekayaan dan keragaman seni pertunjukan Indonesia yang berbasis pada nilai-nilai tradisi dan warisan budaya lokal. Pada kegiatan Gelar Seni Budaya Pekan Produk Kreatif Indonesia 2011 yang menggambarkan tema Dengan Seni Budaya Membangun Karakter Bangsa”.


MATERI PAGELARAN SENI BUDAYA TIM KESENIAN EMPAT LAWANG

1. PENDAHULUAN

Sumatera Selatan mempunyai banyak Cerita legenda, setiap daerah mempunyai cerita yang beragam. Kabupaten Empat Lawang salah satunya merupakan daerah yang mempunyai beragam cerita, mitos, legenda masyarakat yang di sampaikan secara turun temurun. Bahkan dari cerita atau mitos tersebut sangat di percaya dan di yakini masyarakat akan kebenarannya.

2. DASAR GARAPAN

            Garapan Ma’sumai mengambil dari sebuah cerita kejadian nyata yang dialami seorang penduduk yang bertempat tinggal di desa Lubuk Puding Kecamatan Ulu Musi Kabupaten Empat Lawang.
            Konsep garapan berupa  sendratari yang menggambarkan orang yang diculik atau dilarikan oleh mak’ sumai atau yang biasa di sebut Jemo Sumai. Masyarakat kemudian mencari kedalam hutan. Alhasil melalui orang pintar atau dukun orang hilang tersebut dapat di temukan.
 Properti          :
            - keruntung
            - kail
- pondok
            - Pakaian Alang-alang
            - Tampah
            - obor
            - lampu petromak


 Alat Musik      :
            - Gendang
            - Rampak Bambu
            - Gong
            - kentongan
            - Efek Sound

3. SINOPSIS

             Ma’sumai adalah cerita misteri masyarakat daerah Empat Lawang dan cerita ini sangat melekat dan dipercayai oleh masyarakat. Kalau ada orang yang hilang ditengah hutan dikatakan diculik oleh masumai atau disebut dilaghikan Jemo sumai.
Kemudian Masyarakat akan  berbondong - bondong mencari di hutan atau di kolong - kolong rumah dengan memanggil - manggil namanya melalui media periuk atau tampah benda bulat yang terbuat dari bambu dipukul - pukul sambil memanggil - manggil nama orang yang hilang dilarikan masumai tersebut.
Ada kalanya orang yang hilang ini sampai berminggu-minggu, dan tidak jarang juga sampai sebulan bahkan tidak pernah diketemukan. Jika ditemukan biasanya orang hilang tersebut berpakaian sudah lusuh seperti orang gila dan bertingkah laku aneh dan tidak mau bicara.
Konon masumai ini paling takut dengan senjata yang mengandung bisa seperti keris, sewar,, badek dan tombak.


"cerita ini disadur dari kumpulan cerita rakyat Empat Lawang karya Syamsu Indra Usman. HS"


Koroegrafer    : Maskur Wahyudi (Mahwa)
Penata Musik  : Henrianto, S. Pd